Pages

TUGAS SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN : 3

Sabtu, 14 Oktober 2017

NAMA : LIVIA MEGA RAHMAYANTI
NPM : 54216082
KELAS : 2DF02

MENGUPAS KONSEP AIDA+S
Dalam dunia penjualan ada berbagai macam teori yang berkaitan dengan teknik-tekniuk menjual. Teori-teori ini mengajarkan bagaimana  mengawali dan mengakhiri proses penjualan dengan sukses , yaitu dari menarik minat calon pembeli sampai pada memberikan keputusan kepada pembeli terhadap produk yang ditawarkan. Salah satu teori menjual yang akan dikemukakan adalah teori AIDAS.

Teori ini menerangkan dengan rinci mengenai tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang penjual didalam melakukan kegiatan penjualan. Tahapan-tahapan teori AIDAS adalah sebagai beikut.

1.   Attention (Perhatian)
            Pada tahap ini , penjual harus berusaha agar calon pembeli memperhatikan penawaran yang dilakukan calon penjual. untuk mendapatkan perhatian dari calon pembeli, penjual harus memperhatikan sikap, tindak tanduk, bahasa, cara berbicara , dan cara berpakain. Kesan pertama yang baik akan berpengaruh positif pada terjadinya penjualan.

2.   Interest (Minat)
Pada tahap ini, penjual harus mengubah perhatian calon pembeli menjadi minat yang semakin kuat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menciptakan suasana yang menyenangkan, menanamkan kepercayaan kepada calon pembeli agar merasa dirinya sebagai orang penting, memberikan jalan untuk mempermudah pembeli membuat keputusan serta melakukan pendekatan kepada calon pembeli.

3.   Desire (Keinginan)
Perlu diketahui, bahwa kebiasaan calon pembeli dalam mengambil keputusan membeli tidaklah sama. Hal-hal yang dapat mempengaruhinya antara lain adalah faktor pendapatan, jenis kelamin,pendidikan, status sosial, dan sebagainya. Untuk itu pada tahap ini penjual harus bisa meyakinkan kepada pembeli dengan menjelaskan keuntungan yang akan didapat calon pembeli apabila calon pembeli membeli produk yang ditawarkan serta kerugian yang dialamai jika tidak membeli produk tersebut.
4.   Action (Tindakan)
Pada tahap ini penjual harus meyakinkan kepada pembeli bahwa keputusan untuk membeli produk yang ditawarkan adalah keputusan yang tepat.

5.   Satisfaction (Kepuasan)
Pada tahap ini penjual harus memastikan bahwa kualitas produk yang ditawarkan sesuai dengan yang dijelaskan. Harga yang ditetapkan pun harga yang pantas, sehingga pembeli merasa puas dan selanjutnya menjadi langganan. Untuk itu, seorang penjual yang baik adalah penjual yang mampu dan mau mengarahkan, membimbing dan memberi petunjuk temtang keguanaan maupun efek samping dari produk yang ditawarkan.


CONTOH PENGGUNAAN KONSEP AIDA+S YANG DILAKUKAN OLEH SEORANG PRODUSEN:

            Konsep ini berlaku untuk setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh bisnis yang dapat menarik hati konsumen/langganan. Misalnya kegiatan membuat suatu produk yang memuaskan konsumen, kegiatan melayani konsumen pada sebuah pertokoan atau kegiatan-kegiatan lainnya.
Pertama kali konsumen berhubungan dengan perusahaan tertentu muncul terlebih dahulu perhatian (Attention) misalnya pada saat konsumen lewat didepan sebuah toko. Konsumen tersebut memperhatikan satu jenis barang yang dipajangkan dietalase toko. Kemudian konsumen tersebut timbul minatnya (Interest), lalu dia masuk ke dalam toko. Setelah masuk kedalam toko dia masuk mencari pelayan dan minta diambilkan barang yang dia ingini. Ini berarti keinginannya (Desire) makin meningkat. Kemudian dia menanyakan berapa harganya, lalu tawar-menawar, cocok harga, langsung dibayar di kas (Action). Setelah barang dibawa pulang ke rumah lalu dipakai (seandainya bentuk pakaian atau dimakan dalam bentuk makanan. Setelah barang tersebut dikonsumsi maka muncul dua keinginan konsumen tersebut puas atau tidak puas.

            Tujuan dari setiap pemasaran ialah menimbulkan kepuasan bagi konsumen. Jika konsumen puas terhadap barang tersebut atau terhadap pelayanan toko tersebut maka konsumen akan melakukan pembelian ulang dan akan memberikan reaksi positif serta menginformasikan reaksi positifnya itu kepada keluarganya, sahabatnya, sehingga, sehingga pemasaran produk tersebut dapat mencapai sasaran. Hal ini dapat menimbulkan keberhasilan bagi perusahaan. Maka, kelima konsep tersebut pun dapat dikatakan berhasil dalam penerapannya.


TUGAS SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN : 2

Sabtu, 07 Oktober 2017

Nama : Livia Mega Rahmayanti
NPM : 54216082
Kelas : 2DF02
OPINI TENTANG MASALAH PERKEMBANGAN
WIRAUSAHAWAN KECIL DI INDONESIA

Usaha Kecil Menengah atau yang sering disingkat UKM merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara maupun daerah, begitu juga dengan negara Indonesia. UKM  ini sangat memiliki peranan penting dalam lajunya perekonomian masyarakat. UKM ini juga sangat membantu negara atau pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan lewat UKM juga banyak tercipta unit unit kerja baru yang menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat mendukung pendapatan rumah tangga. Selain dari itu UKM juga memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas lebih besar. UKM ini perlu perhatian yang khusus dan di dukung oleh informasi yang akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara pelaku usaha kecil dan menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu jaringan pasar.

Di Indonesia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah sering disingkat (UMKM), UMKM saat ini dianggap sebagai cara yang efektif dalam pengentasan kemiskinan. Dari statistik dan riset yang dilakukan, UMKM mewakili jumlah kelompok usaha terbesar. UMKM telah diatur secara hukum melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. UMKM merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Selain menjadi sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional, UMKM juga menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu upaya mengurangi pengangguran.

Selain itu terdapat pula masalah-masalah yang dihadapi usaha kecil dan menengah. Peranan usaha kecil di Indonesia memang diakui sangat penting dalam perekonomian nasional, terutama dalam aspek-aspek, seperti peningkatan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan dan peningkatan ekspor non migas. Selama ini telah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk membantu perkembangan usaha kecil melalui berbagai macam program pengembangan atau pembinaan usaha kecil termasuk diantaranya adalah program kemitraan antara usaha menengah dan besar dengan usaha kecil.


Namun demikian, perkembangan usaha kecil hingga saat ini berjalan sangat lamban. Sebagai contoh, di sektor industri manuaktur, tingkat produktifitas atau konstribusi output industri kecil dan rumah tangga terhadap pembentukan total nilai tambah di sektor tersebut atau produk domestik bruto masih relatif rendah dibandingkan dengan industri menengah dan besar.
Salah satu penyebab kurang berhasilnya program pengembangan atau pembinaan usaha kecil di indonesia dalam memperbaiki kondisi atau kinerja kelompok usaha kecil, dari posisi yang lemah dan tradisional ke posisi yang kuat dan modern adalah tekanan orientasi program atau kebijakan pemerintah lebih terletak pada “aspek sosial” daripada “aspek ekonomi atau bisnis”. Selama ini usaha pengembangan kegiatan ekonomi skala kecil yang umumnya padat karya dan dilakukan oleh kelompok masyarakat miskin berpendidikan rendah ditunjukkan untuk meningkatkan pendapat mereka atau mengurangi jumlah pengangguran dan kesenjangan.
Permasalahan mendasar di bidang manajemen bagi para pengusaha kecil pada berbagai sektor adalah:

Permodalan 
  1. Suku bunga kredit perbankan masih tinggi, sehingga kredit menjadi mahal 
  2. Informasi sumber pembiayaan dari lembaga keuangan non bank, misalnya dana penyisihan laba BUMN dan model ventura, masih kurang. Informasi ini meliputi informasi jenis sumbe pembiayaan serta persyaratan dan prosedur pengajuan. 
  3. Sistem dan prosedur kredit dari lembaga keuangan bank dan non bank rumit dan lama, selain waktu tunggu pencairan kredit yang tidak pasti. 
  4. Perbankan kurang menginformasi standar proposal pengajuan kredit, sehingga pengusaha kecil tidak mampu membuat proposal yang sesuai dengan criteria perbankan. 
  5. Perbankan kurang memahami kriteria usaha kecil dalam menilai kelayakan usaha kecil, sehingga jumlah kredit yang disetujui sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan usaha kecil.
Pemasaran 
  1. Bargaining Power pengusaha kecil dalam berhadapan dengan pengusaha besar selalu lemah, utamanya berkaitan dengan penentuan harga dan system pembayaran, serta pengaturan tata letak produk usaha kecil di department store dan supermarket. 
  2. Asosiasi pengusaha atau profesi belum berperan dalam mengkoordinasi persaingan tidak sehat antar usaha sejenis. 
  3. Informasi untuk memasarkan produk di dalam maupun di luar negeri masih kurang, misalnya tentang produk yang diinginkan, siapa pembeli, tempat pembelian atau potensi pasar, tata cara memasarkan produk serta tender pekerjaan utamanya pada usaha jasa.

Bahan Baku 
  1. Supply bahan baku kurang memadai dan berfluktuasi, antara lain karena adanya kebijakan ekspor dan impor yang berubah-ubah, pembeli besar yang menguasai bahan baku,keengganan pengusaha besar untuk membuat kontrak dengan pengusaha kecil 
  2. Harga bahan baku masih terlalu tinggi dan berfluktuasi karena struktur pasar bersifat monopolistik atau dikuasai pengusaha pasar. 
  3. Kualitas bahan baku rendah, antara lain karena adanya standardisasi dan manipulasi kualitas bahan baku. 
  4. Sistem pembelian bahan baku secara tunai menyulitkan pengusaha kecil, sementara pembayaran penjualan produk umumnya tidak tunai.
Teknologi 
  1. Tenaga kerja terampil sulit diperoleh dan dipertahankan, antara lain karena lembaga pendidikan dan pelatihan kurang dapat menghasilkan tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan pengusaha kecil. 
  2. Akses dan informasi sumber teknologi masih kurang dan tidak merata, sedangkan upaya penyebarluasan masih kkurang gencar. 
  3. Spesifikasi peralatan yang sesuai dengan kebutuhan (teknologi tepat guna) sukar diperoleh. 
  4. Lembaga independent belum ada dan belum berperan, khususnya lembaga yang mengkaji teknologi yang ditawarkan oleh pasar kepada pngusaha kecil, sehingga teknologi ini tidak dapat dimanfaatkan secara optimum. 
  5. Peranan instansi pemerintahan, non pemerintahan dan perguruan tinggi dalam mengidentifikasi, menemukan, menyebarluaskan dan melakukan pembinaan teknis tentang teknologi baru atau teknologi tepat guna bagi pengusaha kecil masih kurang intensif.
Manajemen 
  1. Pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan usaha sulit ditmukan, antara lain karena pengetahuan dan manajerial skill pengusaha kecil relative rendah. Akibatnya, pengusaha kecil belum mampu menyusun strategi bisnis yang tepat. 
  2. Pemisahan antara manajemen keuangan perusahaan dan keluarga atau rumah tangga belum dilakukan, sehingga pengusaha kecil mengalami kesulitan dalam mengontrol atau mengatur cash flow, serta dalam membuat perencanaan dan laporan keuangan.

Birokrasi 
  1. Perizinan tidak transparan, mahal, berbelit-belit, diskriminatif, lama dan tidak pasti, serta terjadi tumpang tindih vertical (antara pusat daerah) dan horizontal (antar instansi daerah). 
  2. Penegakan dan pelaksanaan hukum dan berbagai ketentuan masih kurang serta cenderung kurang tegas. 
  3. Pengusaha kecil dan asosiasi usaha kecil kurang dilibatkan dalam perumusan kebijakan tentang usaha kecil. 
  4. Pungutan atau biaya tambahan dalam pengurusan perolehan modal dari dana penyisihan laba BUMN dan sumber modal lainnya yang cukup tinggi. 
  5. Mekanisme pembagian kuota ekspor tidak mendukung busaha kecil untuk mampu mengekspor produknya. 
  6. Banyak pungutan yang seringkali tidak disertai dengan pelayanan yang memadai.
Infrastruktur 
  1. Listrik, air dan telepon bertarif mahal dan sering menghadapi gangguan disamping pelayanan petugas yang kurang baik. 
  2. Kurangnya prasarana yang memadai seperti jalan, listrik, telepon, air, serta fasilitas penanganan limbah dan gangguan.
Kemitraan 
  1. Kemitraan antara usaha kecil dan usaha menengah dan besar dalam pemasaran dan sistem pembayaran, baik produk maupun bahan baku, dirasakan belum bermanfaat. 
  2. Kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah dan besar dalam transfer teknologi masih kurang.


Maka dari itu memajukan kewirausahaan di Indonesia memerlukan dukungan dan peran serta dari semua pihak. Makin banyak masyarakat yang berwirausaha dan mampu mengembangkan usahanya maka akan berdampak signifikan terhadap kemajuan perekonomian Indonesia. Para investor makin tertarik menanamkan modalnya untuk sektor ril, pengangguran dapat diatasi yang sekaligus mengatasi kemiskinan, dan penghasilan masyarakat yang makin meningkat bahkan sejahtera membuat lebih mudah untuk memungut pajak.

TUGAS SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN : 1

Sabtu, 30 September 2017

Nama : Livia Mega Rahmayanti
Kelas   : 2DF02
NPM   : 54216082
TIPE DAN PROFIL WIRAUSAHA

*      DEFINISI KEWIRAUSAHAAN (ENTREPRENEURSHIP)

Kewirausahaan (Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.

*      LATAR BELAKANG TERJADINYA KEWIRAUSAHAAN

Kewirausahaan (entrepreneur) merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang berkembang. Kemajuan atau kemunduran ekonomi suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok wirausahawan ini. Tidak ada satu bangsa di dunia ini yang mampu menjadi negara maju tanpa ditopang oleh sejumlah pemuda dan masyarakat yang berwirausaha.

Seperti yang kita ketahui, bahwa Pengangguran di Indonesia yang semakin meningkat per harinya, kesempatan dan lowongan kerja yang minim, serta pendidikan yang rendah maupun beberapa orang yang sudah berpendidikan tinggi namun belum mampu menjadi tumpuan ekonomi negara dan menjadi pengangguran-pengangguran terdidik, memotivasi setiap orang untuk mendirikan suatu usaha kecil dan menengah atau berwirausaha. Ya, inilah jalan keluarnya. Berwirausaha kini telah menjadi “gaya hidup” di kalangan masyarakat Indonesia. hanya bermodalkan minat, bakat serta kemampuan dalam mengelolanya mereka bisa mendapatkan profit yang cukup menjanjikan. Mereka yang berwirausaha mampu menjadi pendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara dan menekan masalah pengangguran di Indonesia.


Dalam hal ini, seseorang wirausahawan sukses asal Surabaya bernama Hendy Setiono mengawali karirnya dengan membuka usaha kuliner berupa makanan khas Timur Tengah yaitu kebab.
*      TIPE-TIPE WIRAUSAHA

1.      Business Entrepreneur
Tipe paling mendasar dalam wirausaha adalah wirausaha bisnis, yaitu wirausaha yang bergerak dalam bidang produksi barang dan jasa serta pemasarannya. wirausahawan bisnis membangun bisnisnya dari ide inovatifnya sendiri, serta lebih fokus pada kualitas produk dan kepuasan pelanggan ketimbang terlalu fokus pada laba.

2.      Creative Entrepreneur
Creative entrepreneur adalah orang yang bergerak di bidang usaha menciptakan atau memanfaatkan pengetahuan dan informasi. Contohnya adalah orang yang bergerak di bidang pembuatan film, iklan, video game, penerbitan buku, musik, dan sebagainya. Dalam semua bidang tersebut, yang menjadi modal utamanya adalah kreativitas dalam mencipta suuatu produk. Setiap produk yang dihasilkan oleh creative entrepreneur merupakan produk yang unik dan karena itu memiliki perjalanan hidupnya masing-masing.

3.      Technopreneur
Technopreneur adalah seorang wirausahawan yang menghasilkan kekayaan dengan cara memanfaatkan teknologi informasi yang pesat berkembang. Membicarakan technopreneurship ini sangat menarik karena banyak begitu banyak inovasi teknologi informasi, seperti Google maupun Apple yang tumbuh menjadi sangat besar. Seorang technopreneur adalah seorang yang berusaha memberikan layanan yang memberikan nilai tambah, rasa gembira, atau ketagihan kepada mereka yang menikmati produknya.

4.      Social Entrepreneur
Social entrepreneur adalah seorang wirausahawan yang bergerak di bidang usaha perbaikan kondisi-sosial, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi masyarakatnya. Social entrepreneur adalah seorang yang menjalankan usahanya menciptakan perbaikan social melalui pasar.


*      PROFIL DAN BIODATA HENDY SETIONO



Nama Lengkap           : Hendy Setiono
Nama Panggilan         : Hendy | Baba Rafi
Profesi                      : Pengusaha
Agama                      : Islam
Tempat Lahir             : Surabaya
Tanggal Lahir            : Rabu, 30 Maret 1983
Warga Negara            : Indonesia
Istri                          : Nilamsari
Anak                         : Rafi Darmawan, Reva Audrey, Zahifa
Ayah                         : Ir. H. Bambang Sudiono
Ibu                           : Endah Setijowati
Situs web                  : hendysetiono.com



PENDIDIKAN
  • Diploma Lanjutan E-Commerce Komputer Informatika Sekolah Pendidikan Singapura, (2003-2004)
  • Diploma E-Commerce Sekolah Pendidikan Informatika Komputer Singapura, (2002-2003)
  • Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) (tidak tamat), (2000-2002)
  • SMU Negeri 5 Surabaya, (1997-2000)
  • SMP Vidatra Bontang Kalimantan Timur (1994-1997)
  • Sekolah Dasar Twinbrook Maryland Amerika Serikat, (1992-1994)
  • SD YPVDP Bontang Kalimantan Timur (1989-1992)
KARIR
  • Presiden Direktur PT. Baba Rafi Indonesia - Pendiri Waralaba Bisnis "Kebab Turki Baba Rafi", telah beroperasi lebih dari 750 Outlet di Indonesia dan Malaysia.
  • Presiden Direktur PT. Piramida Zahira-Pendiri Waralaba Bisnis "Piramizza", sekarang beroperasi lebih dari 75 Outlet di Indonesia.
  • Presiden Direktur PT. Panen Raya Indonesia - "Ayam Bakar Mas Mono", Restoran Ayam Panggang operasi 15 outlet di Indonesia.
  • Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Kewirausahaan - Indonesia Kamar Dagang dan Industri.
  • Motivator dan Mentor Bisnis Kewirausahaan.

*      LATAR BELAKANG SERTA KISAH SUKSES HENDY SETIONO MENJADI WIRAUSAHAWAN
           
Hendy Setyono adalah pemilik bisnis kuliner kebab Baba Rafi. Memulai usaha dengan ide yang tidak sengaja melintas dalam pikirannya nyatanya mampu menghantarkan Hendy menuju puncak kesuksesan. Awal perkenalannya dengan kebab terjadi pada tahun 2003 ketika Hendy mencicipi masakan Timur Tengah. Mencicipi keaslian masakan kebab kedai yang tersedia Qatar. Kepergiannya ke Qatar bukan dilakukan dengan sengaja untuk mencari ide bisnis, Ia hanya melakukan kunjungan kepada ayahnya yang bekerja diperusahaan minyak.

Sejak perkenalan pertamanya dengan kebab, pria kelahiran Surabaya 30 Maret 1983 ini memiliki keinginan untuk mengenalkan kebab di Indonesia. Alasan Hendy membuka bisnis kuliner berupa kebab karena rasanya yang enak dan juga pesaing yang masih sedikit. Selain itu peluang dari masyarakat Indonesia yang berketurunan Arab maupun orang Indonesia yang pernah mencicipi kebab ketika beribadah haji.

Hendy kemudian melakukan berbagai eksperimen, dan menyimpulkan bahwa kebab khas Turki merupakan yang paling enak dan paling cocok dengan cita rasa Indonesia. Hendy kemudian mengusung trade mark berupa “Kebab Turki Baba Rafi”. Setelah kembali ke Indonesia, Hendy memulai rencana bisnisnya dengan penyusunan strategi bisnis. Pria yang pernah menuntut ilmu di jurusan Teknik Informatika ITS selama 4 semester ini kemudian mencari rekan bisnis untuk menunjang usahanya. Hendy kemudian bertemu dengan Hasa Baraja dan memulai berbagai persiapan untuk bisnis kebabnya.

Hendy dan Hasan melakukan beberapa perubahan pada kebab agar lebih cocok untuk dipasarkan, yaitu dengan mengurangi aroma cengkeh dan lada yang sangat kuat serta mengurangi ukuran porsi kebab yang terlalu besar. Untuk mendapatkan racikan resep yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia dibutuhkan waktu hingga tiga bulan.

Bermodalkan 10 juta rupiah, Hendy berhasil mengoperasikan gerobak kebab pertamanya pada September 2003. Kesulitan diawal usahanya juga telah dilalui Hendi, mulai dari uang yang dibawa kabur karyawan, gonta-ganti karyawan hingga terpaksa harus berjualan sendiri. Mengusung visi kualitas adalah segalanya, Baba Rafi membuat tim khusus untuk quality control terhadap kualitas rasa disetiap outlet, kebersihan hingga value produk. Penambahan line khusus pengaduan konsumen juga dipilih sebagai strategi pemasaran.

Inovasi juga dipilih untuk menjaga kualitas produknya. Pemasakan daging dengan diasap, menyediakan berbagai varian rasa adalah cara Baba Rafi menarik hati konsumennya. Keberhasilan Hendy ditunjukan dengan banyaknya mitra yang ingin bergabung, hingga saat ini outlet Kebab Turki Baba Rafi telah mencapai angka 375 outlet dengan omset sekitar 16 miliar tiap tahun.

Selain kebab, PT Baba Rafi Indonesia juga memiliki usaha kuliner lainnya seperti 5 outlet Piramizza di Surabaya dan Roti Maryam Aba-Aba sebanyak 45 outlet yang tersebar di Jawa dan Bali. Lebih dari 10 penghargaan telah diraih Hendy karena kesuksesannya menggerakkan bisnis kulinernya.

DAFTAR PUSTAKA


BAB 9 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Rabu, 12 Juli 2017

NAMA : LIVIA MEGA RAHMAYANTI
NPM : 54216082
KELAS : 1DF03

BAB 9 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN (KELOMPOK 12)

Ø  Dasar-Dasar Analisis Laporan Keuangan
1)      Kebutuhan Akan Analisis Kuangan
Menganalisis laporan keuangan berarti mengevaluasi tiga karakteristik dari perusahaan likuiditasnya,dan solvabilitasnya.
2)      Cara Menganalisis Laporan Keuangan
Beragam cara digunakan untuk mengevaluasi pentingnya data laporan keuangan. Tiga cara yang umum digunakan adalah Analisis Horizontal, Analisis Vertical dan Analisis Rasio.
                                I.            Analisis horizontal dilakukan dengan cara jumlah setiap akun laporan keuangan tahun berjalan dibandingkan dengan akun yang sama pada periode sebelumnya untuk mengetahui kenaikan atau penurunan yang terjadi pada akun tersebut.
                              II.            Analisis vertical  juga disebut analisis ukuran umum, adalah sebuah teknik untuk mengevaluasi data laporan keuangan yag menyatakan setiap pos dalam sebuah laporan keuangan sebagai presentase dari jumlah dasar.
                            III.            Analisi Rasio terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya:
·         Rasio Likuiditas, mengukur kemampuan jangka pendek perusahaan untuk membayar kewajibannya yang telah jatuh tempo dan memenuhi kebutuhan kas yang tak terduga atau diluar prediksi perusahaan.
·         Rasio profitabilitas, mengukur pendapatan atau keberhasilan operasi dari sebuah  perusahaan untuk periode waktu tertentu. Laba, atau kekeurangannya, memeranguhi kemampuan perusahaan unutuk memperoleh pendanaan utang dan ekuitas.
·         Rasio solvabilitas, mengukur kemampuan perusahaan untuk bertahan selama periode waktu yang panjang. Kreditor jangka panjang dan para pemegang saham utamanya tertarik pada kemampuan perusahaan perusahaa untuk membayar bunga pada saat jatuh tempo dan untuk membayarkan kembali jumlah pokok utang pada saat jatuh tempo.
·         Operasi dalam pengehentian mengacu ke pelepasan sebuah segmen yang signifikan dari sebuah bisnis. Contohnya adalah penghapusan seluruh aktivitas dan penghilangan sejumlah kelas pelangggan.


Ø  Daya Laba dan Pos–pos yang Tidak Biasa
Daya laba berarti tingkat normal laba yang akan diperoleh dimasa depan. Perbedaan daya laba dan laba bersih terletak pada jumlah pendapatan, beban, keuntungan,dan kerugian yang tidak biasa. Para pengguna tertarik dengan daya laba karena hal tersebut membantu mereka menurunkan estimasi laba dimsa depan tanpa “gangguan” pos-pos yang tidak biasa.
1.       Pos-pos Luar Biasa   
2.       Perubahan dalam Prinsip Akuntansi
3.       Laba Komprehensif

Ø  Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan
1.       Estimasi 
artinya digunakan dalam menentukan penyisihan piutang tidak tertagih, depresiasi periodic, biaya garansi, dan kerugian kontinjensi.
2.       Biaya 
artinya Laporan keuangan tradisional didasarkan pada biaya perolehan dan tidak disesuaikan dengan perubahan tingkat harga.
3.       Metode Akuntansi Alternatif 
artinya Perusahaan beragam dalam penggunaan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Keragaman tersebut dapat menyulitkan perbandingan.
4.       Data yang Berbeda 
artinya Data akhir tahun pajak mungkin tidak sama dengan kondisi keuangan selama tahun tersebut. Perusahaan sering kali membuat akhir tahun  pajak yang sesuai dengan titik rendah pada aktivitas operasi atau pada tingkat persediaan. Maka, beberapa saldo (kas, piutang, utang, dan persediaan) mungkin tidak mewakili saldo pada akun-akun selama tahun tersebut.
5.       Keberagaman (Diversifikasi) perusahaan 
artinya Keberagaman dalam lingkungan global juga membatasi kegunaan analisis keuangan. Banyak perusahaan kini sangat beragam sehingga mereka tidak dapat digolongkan ke dalam satu industry tunggal


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS